Berita  

Bengawan Solo Tercemar Limbah Ciu, Ini Dampak yang Dirasakan oleh Warga Blora

Example 120x600

BLORA, (beritaku.net) – Tercemarnya air Bengawan Solo yang diduga akibat limbah ciu sangat berdampak pada warga di sekitarnya.

Kondisi air yang tercemar tersebut sempat didokumentasikan oleh masyarakat di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.

Kepala Desa Ngloram, Diro Beni Susanto mengatakan kondisi air Bengawan Solo saat tercemar berwarna cokelat kehitaman.

Sehingga dengan kondisi air yang tercemar, masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari air tersebut sangat dirugikan.

“Jelas dirugikan,” ucap Diro Beni Susanto saat dihubungi, Kamis (9/9/2021).

Sebab, apabila kondisi tersebut tidak diberhentikan, maka air yang tercemar tentu saja tidak layak untuk dikonsumsi oleh warga sekitar.

“Karena kalau hal ini terjadi terus-menerus dan dibiarkan, air Bengawan Solo tidak layak untuk dikonsumsi warga sekitar, karena berpengaruh juga terhadap tanaman pertanian,” katanya.

Menurutnya, di sepanjang bantaran Bengawan Solo terdapat irigasi yang digunakan oleh warga sekitar untuk mengairi tanaman pangan.

Selain itu, dengan adanya limbah yang mencemari air tersebut, biota yang ada di dalamnya juga tentu saja terdampak.

“Adanya limbah Bengawan solo yang kemarin ikannya mabuk (pladu) itu kan secara otomatis akan mengurangi mata pencaharian mereka, karena biasanya limbah itu berpengaruh lama dengan kehidupan di Bengawan Solo, seperti ikan udang dan lain sebagainya,” terangnya.

Diro Beni juga menyoroti adanya fenomena ikan mabuk atau dalam bahasa warga sekitar disebut pladu.

“Kalau dulu itu pladu itu setiap tahun ada, cuman pladu itu biasa terjadi di saat pergantian musim, dari musim kemarau masuk ke musim penghujan, hujan pertama itu lebat, sehingga membuat air Bengawan solo naik, itu ikan mabuk (pladu) tapi mabuknya fenomena alam, bukan karena faktor limbah dan lain sebagainya,” jelasnya.

Baca Juga :  Penetapan Calon Kades PAW Diwarnai Protes Anggota BPD

“Tapi kalau sekarang ketika masuk musim kemarau, hampir desa dipastikan seminggu sekali atau 2 minggu sekali atau sebulan sekali itu pasti fenomena pladu, akibat pengaruh limbah,” imbuhnya.

Maka dari itu, agar pencemaran air Bengawan Solo tidak terus-menerus terjadi, masyarakat sekitar berharap adanya penanganan serius dari pemerintah.

“Mungkin dulu pernah Pak Ganjar melakukan kunjungan atau sidak dan katanya juga sudah ditemukan pabrik yang membuang limbah, tapi kenyataannya sampai saat ini fenomena itu terjadi dan limbah tetap saja terjadi,” terangnya.

Harapan kami bisa ditindaklanjuti yang lebih spesifik sehingga oknum-oknum saat ini yang tidak bertanggungjawab itu bisa diingatkan dan kalau bisa ya diberikan sanksi yang lebih berat,” ujarnya.

banner 400x130

Tinggalkan Balasan