Lesbumi Inisiasi Merti Kayon Blora 2026

Logo Lesbumi Blora

BLORA, beritaku.net – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) menginisiasi rangkaian kegiatan Merti Kayon Blora 2026.

Rangkaian kegiatan Merti Kayon Blora 2026 rencananya dilaksanakan pada September – Oktober mendatang.

Dalam filosofi Jawa, kayon adalah simbol pohon kehidupan, lambang alam semesta, keseimbangan, serta harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. 

Sementara merti adalah wujud rasa syukur yang diwujudkan melalui tindakan merawat dan melestarikan.

Merti Kayon hadir sebagai panggilan jiwa,  sebuah ajakan untuk kembali merawat kehidupan dengan merawat pohon.

Ketua Lesbumi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Blora, Dalhar Muhammadun menjelaskan pentingnya merawat pohon sebagai bagian untuk mengatasi krisis ekologi.

“Krisis ekologi adalah persoalan kita bersama. Sebagai lembaga kesenian dan kebudayaan yang bernaung di bawah Nahdlatul Ulama, kami merasa berkewajiban untuk turut berkontribusi menanggulangi permasalahan tersebut,” ucap dia, Rabu (26/8/2026).

Maka dari itu, lembaganya menggagas rangkaian kegiatan Merti Kayon 2026 untuk pertama kalinya di Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

“Karenanya Lesbumi Blora berinisiatif menyelenggarakan rangkaian kegiatan Merti Kayon 2026, yang puncaknya nanti bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional 2026,” kata dia.

Sekilas Tentang Merti Kayon Blora 2026

Merti Kayon Blora 2026 hadir sebagai gerakan kolaboratif untuk mengajak masyarakat Blora melihat kembali pohon-pohon besar di sekitar kita sebagai warisan alam yang perlu dirawat bersama-sama.

Merti Kayon Blora 2026 akan melakukan inventarisasi dan dokumentasi pohon-pohon besar di seluruh wilayah Kabupaten Blora.

Pohon-pohon besar tersebut dapat dinominasikan oleh masyarakat, pemerintah desa atau kelurahan, komunitas, organisasi masyarakat (ormas), lembaga pendidikan, serta kelompok atau lembaga lainnya dengan berkoordinasi dengan pemerintah desa atau kelurahan setempat.

Setiap pohon yang dinominasikan akan melalui proses verifikasi, dokumentasi, pengukuran, pengumpulan cerita dan sejarah, serta penilaian oleh tim juri.

Aspek penilaian tersebut mencakup ukuran dan usia pohon, nilai ekologis dan konservasi, nilai sejarah dan budaya, keterkaitan dengan tradisi dan kehidupan masyarakat, serta kondisi keunikan dan keberlanjutan pohon.

Dari proses penilaian tersebut akan dipilih 10 Kayon Utama Blora 2026, yang bukan sekadar pohon terbesar, bukan pula sekadar pohon tertua, tetapi pohon-pohon yang memiliki cerita, nilai, dan makna penting bagi kehidupan masyarakat Blora.

Baca Juga :  HMI dan PMII Ikut Hadiri Penyerahan Puluhan Paket Sembako dari Polisi untuk Pekerja Seni

Merti Kayon tidak sekadar berbicara tentang batang, dahan, akar, atau ukuran pohon. Namun Merti Kayon juga ingin menemukan cerita dibaliknya.

Karena setiap pohon mungkin menyimpan cerita yang tidak tercatat dalam buku sejarah. Dan ketika pohon itu hilang, bisa jadi sebagian cerita tentang tempat itu ikut hilang bersamanya.

Pameran Merti Kayon Blora 2026

Hasil inventarisasi dan dokumentasi tersebut akan dihadirkan melalui pameran foto dan dokumentasi Kayon Blora, cerita pohon-pohon besar dan pohon bersejarah, performance art bertema pohon, alam, dan kehidupan. 

Doa bersama sebagai ungkapan syukur atas alam dan kehidupan, serta ruang untuk mempertemukan alam, sejarah, budaya, seni, dan masyarakat.

Anugerah Merti Kayon Blora 2026

Sebagai puncak rangkaian kegiatan, akan diberikan Anugerah Merti Kayon Blora 2026 kepada 10 pohon terpilih yang memiliki nilai penting bagi lingkungan, sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat.

Anugerah tersebut bukan sekadar penghargaan kepada sebuah pohon, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan masyarakat yang selama ini menjaganya.

Membangun Database Kayon Blora

Selain itu, Merti Kayon Blora 2026 juga diarahkan untuk membangun Database Kayon Blora, yang mendokumentasikan pohon-pohon besar dan pohon bersejarah di Kabupaten Blora, berisi informasi tentang lokasi, jenis pohon, ukuran dan kondisi, perkiraan usia, nilai ekologis, sejarah, cerita rakyat, tradisi dan pengetahuan lokal, dokumentasi visual, serta keterangan masyarakat sekitar.

Database tersebut diharapkan menjadi rujukan awal untuk pendidikan, penelitian, konservasi, kebudayaan, dan penyusunan kebijakan perlindungan pohon di Kabupaten Blora.

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maaf Guys..!!