Suasana berbeda menyelimuti Rumah Batik Blimbing di Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, pada Minggu (13/7/2025).
Rumah batik yang biasanya lengang dan khusyuk dalam proses seni, hari itu berubah menjadi ruang pembelajaran batin, ketika sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Institut Agama Islam Khozinatul Ulum (IAIKU) Blora datang bertamu.
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda formal dalam rangkaian program KKN, melainkan sebuah upaya nyata untuk meresapi kearifan lokal yang perlahan memudar ditelan arus zaman.
Kehangatan langsung terasa saat Ibu Lis, pemilik sekaligus perajin utama Rumah Batik, menyambut rombongan mahasiswa dengan senyum tulus.
Di balik tangannya yang luwes mencanting malam di atas kain putih, tersimpan tekad dan keteguhan untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan bermakna.
Mahasiswa tidak hanya menyimak cerita, tapi benar-benar terjun menyentuh setiap tahapan pembuatan batik. Mulai dari menggambar motif, mencanting, mewarnai, hingga proses pelorodan yang menghapus malam dan menampakkan keindahan pola, semua dilalui dengan penuh takjub dan rasa kagum.
Bagi mereka, membatik ternyata bukan sekadar seni visual, tapi juga latihan jiwa: butuh ketekunan, kesabaran, dan cinta dalam setiap goresannya.
Dari aktivitas ini, mahasiswa belajar bahwa budaya bukan hanya benda mati yang dipajang, melainkan kehidupan yang harus dipelajari, dipahami, dan diwariskan.
Mereka menemukan nilai-nilai luhur di balik setiap motif batik, yang mengajarkan filosofi kesederhanaan, ketulusan, dan kerja keras. Bukan hanya tangan yang bekerja, tapi hati yang juga ikut menyulam makna.
Lebih dari itu, kunjungan ini membuka ruang sinergi antara akademisi muda dan pelaku UMKM lokal.
Mahasiswa KKN pun berkomitmen menjadikan pengalaman ini sebagai inspirasi gerakan literasi digital budaya, dengan mempromosikan Rumah Batik Blimbing melalui media sosial, video dokumenter, dan tulisan-tulisan kreatif.
Sebuah langkah kecil yang diyakini dapat berdampak besar dalam menjaga eksistensi batik di tengah gempuran modernitas.
Momen penutup diisi dengan sesi dokumentasi bersama, penuh kehangatan dan canda.
Di antara kain-kain batik yang menggantung, tersimpan sebuah harapan diam-diam: semoga semangat melestarikan budaya tidak berhenti di kunjungan ini, tapi terus tumbuh di hati para pemuda yang datang dan kembali dengan semangat baru.
Rumah Batik Blimbing bukan hanya tempat membatik. Ia adalah rumah bagi mereka yang ingin belajar tentang cinta, perjuangan, dan bagaimana sebuah warisan bisa hidup abadi dalam ketulusan tangan dan hati manusia.
















