Dolar Menguat, Harga Material Bangunan di Blora Naik hingga 40 Persen, Daya Beli Masyarakat Turun

BLORA, beritaku.net – Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mulai berdampak pada harga berbagai material bangunan di Kabupaten Blora. 

Sejumlah bahan bangunan seperti semen, plastik, thinner, hingga besi mengalami kenaikan harga dalam dua hingga tiga pekan terakhir.

‎Pengusaha material dan kontraktor Blora, Kaji Solik, mengungkapkan bahwa kenaikan paling terasa terjadi pada produk berbahan plastik yang mencapai 30 hingga 40 persen.

‎”Kalau semen naik sekitar 10 persen. Dari harga sekitar Rp40 ribu per sak menjadi Rp44 ribu. Sementara barang berbahan plastik seperti pralon, tandon air, dan pintu PVC naik antara 30 sampai 40 persen karena kenaikannya bertahap,” ujar dia saat ditemui di tokonya, Desa Tamanrejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Rabu (10/6/2026).

‎Selain itu, harga thinner juga mengalami kenaikan sekitar 30 persen. Sementara harga besi naik sekitar 20 hingga 25 persen dibandingkan harga sebelumnya.

‎Menurut Solik, lonjakan harga tersebut mulai terasa sejak dua minggu terakhir dan dipicu oleh meningkatnya biaya impor bahan baku yang terdampak penguatan dolar.

‎Tak hanya material pabrikan, produk tambang seperti batu belah, batu pecah (ricak), dan batu giling juga mengalami kenaikan harga. 

Kenaikan dipengaruhi oleh biaya pembelian material dari tambang serta meningkatnya ongkos angkut.

‎”Harga ricak dari tambang naik sekitar 15 persen. Ongkos angkut yang biasanya Rp500 ribu per rit sekarang menjadi Rp600 ribu atau naik sekitar 20 persen. Kalau digabung, kenaikannya bisa mencapai 35 persen,” jelasnya.

‎Akibat kondisi tersebut, harga batu belah yang sebelumnya sekitar Rp850 ribu kini mendekati Rp1 juta per muatan.

Baca Juga :  Senam Bersama di Blora Meriahkan Kampanye Ahmad Luthfi – Taj Yasin MZ, Ribuan Warga Hadir

‎Solik menilai kenaikan harga material berpotensi mengganggu pelaksanaan proyek pembangunan, terutama proyek pemerintah yang masih mengacu pada Harga Perkiraan Sendiri (HPS) lama.

‎”Yang jadi persoalan, HPS proyek belum bisa langsung menyesuaikan dengan kondisi harga sekarang. Kalau tidak ada penyesuaian, tentu akan berdampak pada pembangunan,” katanya.

‎Selain menghadapi kenaikan harga material, para pelaku usaha juga merasakan penurunan daya beli masyarakat. Sejak setelah Lebaran 2026, transaksi penjualan material untuk kebutuhan rumah tangga dan renovasi mengalami penurunan cukup signifikan.

‎”Kalau market masyarakat umum turun sekitar 20 sampai 30 persen. Biasanya orang habis panen mau renovasi rumah, pasang keramik, mengecat rumah, atau memperbaiki teras. Sekarang banyak yang menunda karena harga terus naik,” ungkapnya.

‎Ia menambahkan, banyak pelanggan yang akhirnya mengurangi jumlah pembelian atau meminta skema pembayaran secara bertahap karena keterbatasan kemampuan ekonomi.

‎Meski demikian, masyarakat yang sudah merencanakan pembangunan atau renovasi tetap terpaksa melanjutkan pekerjaan meski harus menanggung biaya lebih tinggi akibat kenaikan harga material dalam beberapa pekan terakhir.

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maaf Guys..!!