Kunjungi SLB di Purwokerto, Menteri Abdul Mu’ti Berkomitmen Wujudkan Pendidikan untuk Semua

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti kunjungi SLB YAKUT di Purwokerto, Jawa Tengah, Sabtu (25/4/2026)

PURWOKERTO, beritaku.net – Suasana di Sekolah Luar Biasa (SLB) bagian B Yayasan Kesejahteraan Usaha Utama (YAKUT) di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, pada Sabtu (25/4/2026) terlihat ramai. 

Para siswa, guru-guru, tenaga pendidik, hingga pengurus yayasan berkumpul dalam satu agenda besar, menyambut kedatangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu`ti bersama rombongan.

“Assalamualaikum semuanya,” sapa Menteri Abdul Mu`ti kepada ratusan siswa-siswi seraya tersenyum lebar.

Dengan bahasa isyarat, anak-anak berkebutuhan khusus (tuna rungu) ini menjawabnya penuh semangat dan gembira.

“Waalaikumsalam bapak Menteri selamat datang,” kata Septi Wulandari, Siswi Kelas 11 SLB B Yakut Purwokerto, diikuti teman-temannya yang juga didampingi guru penterjemah.

Kunjungan Menteri Abdul Mu`ti ke SLB merupakan bentuk penegasan dan komitmen mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.

“Anak-anak yang berkebutuhan khusus berhak mendapatkan layanan pendidikan khusus. Ini adalah amanat Undang-Undang, dan kami perlu dukungan masyarakat,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Menteri Abdul Mu`ti mengungkapkan, secara statistik jumlah anak-anak berkebutuhan khusus banyak. Jumlahnya terus meningkat, termasuk unit sekolah baru yang masih diberikan ruang untuk dibuka sekolah luar biasa.

Meskipun secara kelembagaan itu ada pemerintah provinsi, namun di Pemerintahan Pusat tetap memberikan afirmasi. Di Jawa Tengah akan ada tambahan satu atau dua sekolah luar biasa pada tahun 2026 ini.

Ia menyebutnya dengan pendidikan inklusi berbasis masyarakat. Jadi mereka ini tidak di sekolah inklusi, tidak juga di sekolah luar biasa, tapi di rumah-rumah masyarakat, bisa juga oleh komunitas.

“Kami berkomitmen anak-anak berkebutuhan khusus ini kita berikan afirmasi untuk dapat belajar di sekolah-sekolah inklusi,” katanya.

Ia menjelaskan, meningkatnya jumlah anak-anak berkebutuhan khusus ini ada dua kemungkinan. Pertama memang jumlahnya bertambah.

Tapi kemungkinan kedua, masyarakat semakin berani menyatakan anaknya berkebutuhan khusus.

Baca Juga :  Pemilihan Ketua PWI Blora Diprediksi Bakal Sengit

Ia perlu menegaskan ini karena ada sebagian masyarakat yang menyembunyikan anak-anak yang berkebutuhan khusus itu karena dua alasan. 

Pertama sebagian masyarakat masih menganggap ketika mereka dianugerahi anak berkebutuhan khusus itu sebagai kutukan Tuhan, sebagai azab.

Menurutnya hal ini adalah pemahaman yang sangat jauh dari tuntunan agama dan harus diberikan pencerahan. Alasan kedua, sebagian masyarakat malu karena anaknya berkebutuhan khusus.

Oleh karena itu, lanjut Menteri Abdul Mu`ti, pemerintah berkomitmen memberikan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus itu melalui tiga program. 

Pertama adalah memperkuat pendidikan inklusif, di mana anak-anak yang berkebutuhan khusus, belajar bersama anak-anak yang normal, anak-anak yang biasa.

“Ini memang rekomendasi Undang-Undang dan juga rekomendasi berbagai lembaga internasional,” ungkapnya.

Sebab, kata Menteri Mu`ti, pendidikan inklusif itu punya dua makna. Makna pertama adalah agar anak-anak berkebutuhan khusus lebih percaya diri dan kehadirannya diterima oleh masyarakat secara luas.

“Jadi mereka tidak boleh kita eksklusi, tidak boleh kita kecilkan, tapi kita inklusi, kita rangkul mereka, kita integrasikan dengan anak-anak yang lain,” tuturnya.

Kemudian yang kedua, supaya anak-anak yang normal mau menerima keadaan mereka, mau mendampingi mereka. Karena apapun keadaan fisiknya, mereka adalah bagian dari anak-anak Indonesia, mereka adalah harapan Indonesia di masa depan.

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maaf Guys..!!