BLORA, beritaku.net – Pemandangan di pusat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tegalgunung, Kabupaten Blora, tampak berbeda pada Selasa (21/4/2026).
Jika biasanya riuh dapur didominasi oleh seragam fungsional, kali ini aroma masakan yang menggugah selera berpadu dengan warna-warni kain kebaya yang dikenakan para relawan demi memperingati Hari Kartini.
Upaya ini bukan sekadar seremoni estetika tahunan. Para relawan dapur SPPG memilih tampil totalitas dengan busana tradisional saat melayani masyarakat sebagai simbol penghormatan terhadap perjuangan R.A. Kartini, sembari menjalankan misi krusial dalam pemenuhan nutrisi warga lokal.
Tidak berhenti pada urusan dapur, para pahlawan gizi ini juga menyisipkan agenda Lomba Fashion Show di sela-sela kesibukan mereka.
Aksi unik ini menarik perhatian publik karena berhasil memadukan sisi keanggunan wanita Indonesia dengan ketangguhan kerja lapangan yang menuntut fisik prima.
Persiapan pun dimulai sejak fajar menyingsing. Para relawan telah bersiap dengan sanggul sederhana dan pilihan kebaya masing-masing.
Meski mengenakan pakaian yang identik dengan acara formal, gerak-gerik mereka tetap cekatan saat mengolah bahan makanan segar untuk didistribusikan.
Bagi para peserta, kegiatan ini merupakan cara konkret untuk mengenang jasa Kartini.
Lebih dari itu, momentum ini menjadi pembuktian bahwa peran perempuan dalam menjaga ketahanan pangan dan gizi keluarga tetap menjadi pilar utama yang tak tergantikan hingga saat ini.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Tegalgunung, Erlita, menjelaskan bahwa inklusivitas menjadi poin penting dalam perayaan tahun ini.
Pihaknya mengajak seluruh elemen relawan untuk terlibat aktif tanpa memandang gender melalui penggunaan pakaian adat tersebut.
“Untuk hari Kartini ini, kami bersama para relawan menyelenggarakan kegiatan dengan mengenakan baju kebaya bagi yang perempuan dan laki-laki mengenakan baju batik,” ujar Erlita saat ditemui di sela-sela kesibukan di SPPG Tegalgunung, Kabupaten Blora.
Puncak kemeriahan pecah saat sesi istirahat dimulai. Dengan tetap mengenakan celemek di atas kebaya mereka—sebuah kontradiksi visual yang menarik—para relawan bergantian melenggak-lenggok di halaman SPPG Tegalgunung layaknya model di atas catwalk.
Meski suasana dipenuhi gelak tawa dan kegembiraan, pengelola SPPG menegaskan bahwa standar kebersihan dan keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama.
Aspek higienitas tetap dijaga ketat agar atribut tradisional yang dikenakan tidak mengontaminasi proses pengolahan makanan.
Para relawan wajib memastikan penggunaan penutup kepala yang disesuaikan dengan sanggul atau hijab mereka.
Melalui peringatan ini, SPPG Tegalgunung berharap semangat Kartini dapat terus memotivasi perempuan di Blora untuk terus berkarya, terutama dalam misi kemanusiaan memperbaiki status gizi masyarakat.















