BANYUWANGI — Laporan media monitoring Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat pencapaian luar biasa dengan dominasi sentimen positif media sebesar 98 persen sepanjang semester pertama tahun 2026. Angka fantastis ini membuktikan peran vital media massa dalam menjaga reputasi dan kepercayaan publik terhadap industri strategis nasional.
Berdasarkan dokumen presentasi kehumasan yang dipaparkan di Ballroom Kokoon Hotel Banyuwangi, Jumat (10/7/2026), total pemberitaan yang termonitor sejak Januari hingga Juni 2026 mencapai 12.560 berita. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12.347 berita dikategorikan dalam corak positif dan netral, sedangkan sentimen negatif hanya menyentuh angka 213 berita atau setara dengan 2 persen saja.
”Pemberitaan media memengaruhi persepsi dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri hulu migas,” ujar Koordinator Departemen Komunikasi SKK Migas, Arief Hermawan, saat menekankan pentingnya peran pers di industri energi.
Strategi Komunikasi dan Optimalisasi Kinerja Hulu Migas
Data monitoring menunjukkan tren volume pemberitaan yang terus menanjak secara konsisten setiap bulannya, melesat dari 1.749 laporan pada Januari menjadi 2.603 publikasi pada Juni 2026. Arief menjelaskan bahwa reputasi instansi tidak dapat dibangun secara instan. Menurutnya, reputasi diperoleh dari perpaduan antara kinerja dan perilaku nyata di lapangan, ditambah dengan pola komunikasi yang konsisten. Langkah taktis ini diimplementasikan melalui optimalisasi media digital serta kegiatan tatap muka seperti siaran pers, media briefing, hingga pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) demi memangkas kesenjangan informasi di publik.
Keberhasilan menjaga reputasi positif ini berjalan beriringan dengan capaian operasional di lapangan yang terus dioptimalkan. Sektor hulu migas baru saja mendapatkan tambahan pasokan produksi minyak sebesar 1.865 Barrel Oil Per Day (BOPD) yang bersumber dari pengaktifan dua sumur pengembangan baru, yakni Sejadi SJ-6 dan Sejadi SJ-4RD1. Capaian ini menjadi bukti konkret bahwa efisiensi dan inovasi teknologi mampu memperpanjang napas produksi lapangan matang.
”Keberhasilan ini menunjukkan bahwa potensi lapangan eksisting masih dapat terus dioptimalkan melalui pemahaman subsurface yang baik, penerapan teknologi yang tepat, serta pelaksanaan operasi yang andal,” imbuh Arief terkait temuan sumur baru tersebut.
Dengan tingkat kepercayaan publik yang terjaga melalui transparansi informasi, industri hulu migas yang mengelola aset negara senilai 70,08 miliar dolar AS ini diharapkan dapat terus tumbuh secara berkelanjutan demi menopang ketahanan energi nasional.











