KENDAL – Perekonomian Kabupaten Kendal mencatatkan rekor fantastis dengan melesat hingga 7,99 persen pada tahun 2025. Loncatan angka ini menjadi bukti nyata keberhasilan transformasi daerah yang kini bertumpu pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Fakta memukau tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kendal, Ade Sandi, dalam acara coffee morning bersama Forum Wartawan Kendal (Forwaken), Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, KEK kini tampil sebagai episentrum pertumbuhan baru yang mendorong industrialisasi di wilayah tersebut. Sektor industri manufaktur memimpin klasemen dengan kontribusi dominan sebesar 42,03 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kendal.
“Industrialisasi di Kendal bukan sekadar berkembang, tetapi sedang berlari kencang. Sektor ini bukan lagi sekadar potensi, melainkan kekuatan riil yang menggerakkan ekonomi secara masif,” tegas Ade Sandi.
Jawara Investasi Dua Tahun Berturut-turut
Dominasi manufaktur kini jauh meninggalkan sektor tradisional seperti pertanian yang berada di angka 17,27 persen, maupun perdagangan di angka 12,04 persen.
Ade menjelaskan, akselerasi cepat ini dipicu oleh derasnya modal yang masuk melalui KEK. Realisasi investasi Kabupaten Kendal tercatat mencapai Rp14,21 triliun pada 2024 dan meroket menjadi Rp15,86 triliun pada 2025.
Torehan tersebut mengukuhkan posisi Kendal sebagai daerah dengan realisasi investasi terbesar di Jawa Tengah selama dua tahun berturut-turut.
“Lonjakan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 20,35 persen menjadi indikasi kuat. Ini berarti investasi yang masuk benar-benar dieksekusi di lapangan dan menjadi mesin penggerak ekonomi 2025,” tambahnya.
Ciptakan Efek Berganda bagi Masyarakat
Lebih lanjut, Kepala BPS Kendal ini menekankan bahwa kehadiran KEK tidak hanya menguntungkan pemodal, tetapi juga menghidupkan ekosistem ekonomi warga sekitar atau menciptakan multiplier effect (efek berganda).
Masifnya pembangunan pabrik membuat sektor konstruksi tumbuh paling tinggi di angka 17,60 persen. Kebutuhan hunian dan pangan pekerja juga mengerek sektor akomodasi yang tumbuh 11,86 persen.
Sementara itu, dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi 54,49 persen, menunjukkan daya beli masyarakat Kendal yang tetap kuat di tengah gempuran industrialisasi.
“KEK bukan hanya sebatas kawasan pabrik. Ini adalah pusat pertumbuhan baru yang berhasil mentransformasi ekonomi makro sekaligus aktivitas riil masyarakat Kendal,” pungkas Ade.














