“Jadilah Manusia yang Memanusiakan Manusia,” begitulah kutipan yang kutulis di triplek segi empat berbingkai milik JL – relawan dokumentasi rombongan belajar SDN Gadon – yang turut memeriahkan hari inspirasi dalam kegiatan Kelas Inspirasi Blora 5.
Cerita ini saya tulis secara singkat saja. Karena menulis cerita tentu berbeda dengan menulis berita. Ya meskipun huruf ‘B’ letaknya bersebelahan dengan huruf ‘C’ dalam alfabet. Sedangkan dalam susunan ‘qwerty’ huruf ‘B’ dan ‘C’ dipisahkan dengan huruf ‘V’.

Secara singkat, cerita itu bermula pada hari Jumat, 7 November 2025. Usai salat jumat, aku menarik pedal gas mobil grand livina HWS berwarna putih untuk berangkat ke kantor Kecamatan Cepu. Saat melewati perempatan pakis, ponsel berdering. Aku dimintai tolong untuk menjemput dua orang yang rumahnya berada di Dukuh Ngampon, Kelurahan Beran, Kecamatan Blora. Sontak saja, aku meminggirkan kendaraan dan menghentikan sementara perjalanan. Aku menghubungi dia, tapi tidak ada respons. Eh, malahan dia sedang mengendarai roda dua tepat berada di depan pandangan. Kendaraan kukendarai pelan-pelan, kaca jendela dibuka. Dia kaget, saat kutanya berangkat bareng atau tidak, dia secara spontan menjawab tidak dan mempersilakan untuk melanjutkan perjalanan. Dia dan JL kemudian berangkat ke Cepu mengendarai sepeda motor.
Aku pun kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah melewati perempatan bangkle, notifikasi pada layar mobil menampilkan bahan bakar tersisa dua balok. Aku kemudian berhenti di SPBU Bangkle. Tapi, karena truk tangki sedang mengisi bak penampungan pertalite, maka kendaraan yang lain hanya bisa menunggu, melewati ataupun mengalihkannya untuk mengisi pertamax. Sedangkan aku, masih sibuk dengan mypertamina agar mendapatkan barcode diperbolehkannya mengisi pertalite. Seusai mendapatkan barcode dan menangkap layar tersebut, kendaraan tak jadi diisi di SPBU Bangkle. Perjalanan ke timur dilanjutkan.
SPBU Tempellemahbang di Kecamatan Jepon juga telah disesaki truk-truk yang tampaknya sedang antre mengisi solar. Tak jadi mobil ini mengisi pertalite di SPBU tersebut. Notifikasi masih dua balok. Mobil kemudian melaju dengan kecepatan yang biasa saja, melewati hutan dan kemudian sampai di SPBU Sambong. Tampak sepi dibangdingkan dengan SPBU Tempellemahbang. Aku kemudian mengisi pertalite dengan membayar Rp 300.000. Notifikasi tampak penuh dengan 8 balok. Perjalanan dilanjutkan hingga sampai di Kantor Kecamatan Cepu.
Di Pendopo Kecamatan, hanya tampak seorang teman. Apa yang bisa dibantu ya jelas aku bantu, tapi setelah itu ngopi dulu, mumpung suasananya mendung, gerimis dan syahdu. Waktu terus berlalu, teman-teman, relawan-relawan mulai berdatangan, saling berkenalan dan kegiatan briefing kemudian dilaksanakan.
Petang datang, persiapan menuju balai desa Jipang. Barang dan perlengkapan dimasukkan dalam bagasi mobil untuk dibawa ke lokasi penginapan. Ada tiga penumpang yang terdiri dari seorang relawan pengajar, seorang relawan dokumentasi dan seorang fasilitator. Sehingga ada empat orang yang berada di dalam mobil, yang semuanya merupakan ‘pasukan’ untuk mengisi kelas inspirasi di SDN Gadon.
Balai Desa Jipang terlihat sepi begitu kami datang. Hanya ada dua anak lokal yang sibuk main ponsel dan seorang Karsan – panitia lokal – yang menyambut kami. Tiga orang penumpang turun, diikuti dengan barang dan perlengkapan. Sedangkan aku, kembali ke Kantor Kecamatan sembari menunggu para relawan yang turun di Stasiun Cepu.
Setelah mereka dipastikan tiba di stasiun, mobil kumasukkan ke area parkir kendaraan stasiun. Mereka masuk mobil dan aku membawa tiga orang tersebut ke luar dari area parkir kendaraan menuju lokasi penginapan, yang berada di Balai Desa Jipang. Selama perjalanan, kami bertukar pikiran, bercerita tentang pengalaman, ngobrol tentang blora, tentang pram, tentang samin dan kok malah tentang suku baduy luar dan dalam. Hingga sampailah berada di lokasi penginapan.
Teman-teman, relawan-relawan lainnya juga sudah berdatangan di lokasi penginapan. Mereka sibuk dengan rencana-rencana kegiatan yang dilakukan pada esok harinya. Salah satu relawan yang ikut menginap yakni, Bagus. Seorang teman lama yang belasan tahun lalu sama-sama mengikuti LKP Himparisba.
Kami mengobrol tentang kenangan masa itu, lalu masuk ke masa kini. Dia kini berstatus sebagai PNS guru di Kabupaten Rembang, memiliki seorang istri dan seorang anak. Hidupnya terasa lengkap, setelah baru-baru ini menyelesaikan program master.
Malam kian larut, sementara perut juga mulai mengerut tanda makan malam segera digelar. Malam itu, beberapa rombongan belajar (rombel) memang memutuskan untuk mengadakan barbequean. Peralatan dan bahan makanan juga sudah datang untuk dimasak agar selanjutnya dapat dihidangkan bagi mereka yang sudah datang.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul dua dua. Saya dimintai tolong untuk menjemput seorang relawan pengajar yang sudah tiba di stasiun cepu. Maka dengan mengendarai mobil, berangkat ke sana. Tak perlu waktu lama untuk memasukkan dia di dalam kendaraan, dan tidak perlu waktu lama juga untuk kembali ke tempat penginapan.
Ajaibnya, saat saya menjemput ke stasiun, kegiatan barbequean belum ada tanda-tanda matang, tapi begitu sampai ke penginapan, makanan tersebut sudah matang. Bahkan tanpa saya bilang, mereka menawari untuk ikut menyantap hidangan barbequean. Ah, nikmat juga malam ini makan malam bareng teman-teman dan para relawan yang jumlahnya puluhan orang. Suasana akrab dan saling mengenal begitu kental terasa, apa ini karena ada tujuan yang sama, atau karena indahnya malam pertama. Tapi yang jelas, beberapa diantara mereka memilih beristirahat tidur agar esoknya bisa menyapa para siswa, dan sisanya memilih untuk tetap terjaga melewati malam pertama.
Namun, aku masih gelisah karena ada satu kewajiban yang belum kutunaikan sebagai seorang yang beragama. Seusai berwudhu, aku malah bingung mau salat di mana, di lantai dua jelas banyak orang yang beristirat, sedangkan di tempat yang seperti musala kondisinya seperti tidak terawat. Musala itu terletak di seberang jalan, depan alun-alun jipang. Sedangkan alun-alun jipang, letaknya di samping balai desa jipang. Maka, aku tanya sama Karsan dan dia bilang ada musala yang lokasinya berada di lorong kedua setelah gereja.
Tanpa pikir panjang, aku pinjam sepeda motornya jenis supra, aku kendarai sampai di samping musala. Tapi, begitu motor kumatikan, aku baru berpikir bahwa ini sudah melewati jam dua belas malam, warga telah beristirahat. Namun, begitu aku ambil wudhu dari kran yang diputar, terdengar suara orang yang batuk-batuk. Aku khawatir, kalau disangka maling. Maka, aku salat tidak di dalam musala, tetapi di samping temboknya. Ketika salat, telingaku mendengar suara warga yang berbisik-bisik. Begitu selesai salat, kunyalakan motor supra, tapi begitu mau digas, malah mati tiba-tiba. Dan itu terjadi sebanyak tiga kali, hingga aku ongkel pakai kaki. Alhamdulillah, motornya nyala dan bisa dikendarai lagi ke balai desa. Aku pun lega.
Sesampainya di balai desa, kukembalikan kunci motor supra kepada pemiliknya.
Setelah itu, aku bergabung dengan beberapa anggota rombelku yang masih terjaga. Tapi karena mulut ini tiba-tiba menganga karena mengantuk, maka aku memilih untuk tidur di dalam mobil, tepatnya di bagian tengah dengan kondisi pintu yang sedikit terbuka.
Ya meskipun tidak bisa meluruskan kaki, tetapi suara kodok yang saling bersahutan seolah menjadi lagu pengantar tidur yang mau tidak mau tetap harus didengarkan, hingga mata terpejam dan tertidur selama satu jam, lebih sedikit.
Sabtu dini hari sekitar pukul tiga pagi, aku bangun dan melihat ponsel ternyata ada pesan masuk dari Kiki, seorang panitia lokal sekaligus fasilitator, yang meminta pertolongan untuk mengambil sarapan agar dapat disantap mereka di pagi hari.
Dari dalam mobil, aku keluar dan berjalan kaki menuju pendopo sembari mengisi daya baterai ponsel yang sudah berwarna merah. Seorang panitia lokal yang juga fasilitator, sebut saja Emtri, masih asyik sendiri dengan laptopnya. Entah apa yang dilakukannya, aku tak peduli.
Begitu mau kembali ke mobil mengambil bantal, aku dikagetkan dengan seorang perempuan paruh baya atau mungkin lansia, yang tiba-tiba datang ke pendopo dan seolah menginterogasiku dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kujawab dengan kondisi masih mengantuk. Ajakan bersalaman pun tetap kuladeni. Beberapa saat kemudian, ibu itu pindah ke dekat seorang yang masih tertidur beralaskan karpet dan ditonton ponsel miliknya sendiri.
Di sisi lain, aku merasa kegerahan dengan kaos yang kukenakan. Setelah cuci muka, aku buka kaos yang malah disambut tawaran losion anti nyawuk oleh Emtri, yang katanya banyak nyamuk di sini. Tapi aku gak merasakan nyamuk menggigit tubuhku. Malahan aku tetap berusaha mengerjakan tulisan yang belum selesai kutulis, meskipun ponsel sedang dicharge.
Sementara dari jarak yang agak jauh, ibu itu terus menceracau. Aku yang ewuh pekewuh mendekati ibu tersebut. Aku tawari roti lapis, kacang rebus, dan air mineral yang berada di dekatnya itu.
Tak berselang lama, tiga perempuan yang juga panitia lokal, Kiki, Talita dan Ayu turun dari lantai dua untuk mengajakku mengambil sarapan. Tanpa babibu, kusudahi isi baterai, kunyalakan mesin mobil, dan berangkatlah kami berempat ambil sarapan di sekitar taman seribu lampu.
Kumandang azan subuh terdengar jelas selama perjalanan menuju tempat mengambil sarapan. Suasana ini cukup lama hilang dari hidupku, yang selalu bangun usai salat subuh berjamaah ditunaikan. Maka sabtu fajar itu cukup spesial bagiku.
Maka sampailah kami berempat ke tempat mengambil sarapan, yang letaknya persis di samping rumah Talita. Mereka bertiga turun, sementara aku meluangkan waktu sejenak menuju SPBU Balun Cepu, menyiram seluruh tubuhku yang sejak semalam telah mengeluarkan banyak keringat. Tak ada sabun, sikat gigi dan pembersih wajah. Yang ada hanya mengganti pakaian, lalu menunaikan salat subuh di musala SPBU tersebut.
Kukemudikan lagi mobil putih ini ke rumah talita untuk menjemput mereka bertiga, sekaligus memasukkan bekal sarapan ke dalam bagasi mobil. Tapi sebelum kembali ke balai desa Jipang, ngopi susu dulu di rumah tersebut bareng Widi yang juga seorang panitia lokal, yang siaga 24 jam.
Begitu mereka bertiga sudah bersiap, maka kuinjak pedal gas menuju ke lokasi. Tapi di tengah perjalanan, kami berhenti untuk menyerahkan sejumlah porsi makanan ke rombel cabean. Belum cukup lama menginjak pedal gas, kaki kananku berpindah menginjak pedal rem. Sebab, palang pintu kereta menutup jalan yang menandakan kereta sedang melintas di rel perlintasan sebidang.
Setelah kereta melintas, palang pintu kembali naik ke atas. Kami lanjutkan perjalanan menuju lokasi. Dan benar saja, beberapa dari mereka telah menunggu kedatangan bekal sarapan yang ada di bagasi.
Tak perlu waktu lama, mereka menyantap hidangan yang ditaruh di atas meja. Sementara aku masih masih melanjutkan tulisan yang sempat tertunda itu. Begitu selesai, aku sarapan nasi berlauk telur dadar berminumkan segelas air mineral.
Usai sarapan, kami yang berada di balai desa kemudian berpencar sesuai dengan rombel sekolahan masing-masing yang telah ditentukan. Maka, ini menandakan kegiatan Kelas Inspirasi segera dilakukan.
Total ada lima sekolah dasar (SD) di Kecamatan Cepu yang beruntung mendapatkan kegiatan Kelas Inspirasi. Lima SD tersebut berada di lima desa, yakni Desa Cabean, Desa Getas, Desa Jipang, Desa Ngloram dan Desa Gadon. Aku kebagian untuk menjadi fasilitator di SD Gadon.
Rombel Gadon menjadi kelompok terakhir yang meninggalkan balai desa untuk menuju ke sekolahan. Aku, bersama empat orang lainnya mengendarai mobil, sementara tiga orang lainnya masing-masing menggunakan sepeda motor.
Selama di perjalanan menuju sekolahan, kami disuguhi pemandangan tenangnya aliran air sungai bengawan solo yang berada di sisi kiri. Maklum, pemandangan tersebut tidak kami dapati tiap hari.
Akhirnya, sampailah kami di tempat tujuan, SD Gadon. Mobil diparkir di halaman sekolah. Sebelum para relawan pengajar mengajar siswa di kelas, kami sempatkan untuk rapat sejenak sebagai persiapan. Dari persiapan yel-yel, persiapan peralatan, sampai persiapan barang ajar, agar semuanya berjalan lancar.
Setelah rapat persiapan selesai, acara pun dimulai.

Awalnya, semua siswa dikumpulkan di halaman sekolah, berbaris yang rapi, dan diajak untuk bersemangat dengan yel-yel. Setelah itu, mereka juga diajak senam bersama dan kemudian foto bersama. Mereka tampak bersemangat, terlihat dari seragamnya yang basah dengan keringat.
Sementara ada seorang guru di sekolahan tersebut yang merupakan temanku, tepatnya teman karang taruna kabupaten. Aku gak tahu kalau selama ini Eric bekerja di SD Gadon. Dia mengajar olahraga, dan beberapa waktu lalu telah diangkat sebagai PPPK. Sebagai seorang guru, tentu dia lebih paham tentang kondisi sekolahan, termasuk anak didiknya.
Setelah beraktivitas di luar kelas, mereka para siswa masuk ke ruangan sesuai kelasnya masing-masing. Aku kebagian untuk menjadi fasilitator di kelas empat memastikan relawan pengajar dapat melaksanakan kegiatan dengan lancar.
Waktu itu, relawan pengajar bernama Bagus yang berprofesi sebagai damkar (pemadam kebakaran) menjelaskan tentang tugasnya. Beberapa peralatan yang biasa digunakan, juga diperlihatkan dan dipraktekkan kepada para siswa. Dia juga membuat simulasi tata cara penanganan ketika terjadi kebakaran. Siswa yang mendapatkan kesempatan tersebut, juga merasa senang dan tahu bagaimana cara petugas damkar memadamkan kebakaran.
Setelah dipastikan kegiatan mengajar berjalan lancar, aku masuk ke sebuah ruangan bersama tiga fasilitator dan berbincang dengan kepala sekolah tersebut.
Kepala SD Gadon itu bernama Suyadi, asal Bojonegoro, Jawa Timur. Kami berbincang banyak hal tentang dunia pendidikan, sampai akhirnya ia bertanya tentang profesiku. Ya, selama ini profesiku adalah seorang wartawan, seorang kontributor untuk kompas.com area Blora.
Begitu mengetahui profesiku seorang wartawan, pria berkacamata itu sempat kaget. Rupanya ia mempunyai pengalaman berharga dengan wartawan dan LSM. Terutama tentang bangunan sekolah yang beberapa tahun lalu sempat disorot oleh mereka yang mengaku wartawan dan LSM.
Aku mendengarkan dengan seksama pengalaman beliau menghadapi peristiwa tersebut. Sesekali, aku memberikan masukan dalam menghadapi persoalan wartawan dan LSM, tentu saja sebisaku dan setahuku.
Waktu sudah melewati pukul 09.00. aku mendapatkan tugas untuk mengambil sejumlah karpet di balai desa untuk dibawa lagi ke kantor kecamatan cepu. Tapi apesnya, ban mobil depan sebelah kanan bocor. ‘ceeeesss…’ begitu bunyinya.
Setelah karpet tersebut dimasukkan ke bagasi, mobil dengan ban kempes itu tetap kugunakan sampai berhenti di SPBU Balun Cepu. Setelah dilihat, ban tersebut kempes, tetapi tukang tambal ban itu tidak bisa menambal. Dia menyarankan untuk mengganti ban serep. Ku geledah bagasi untuk melihat ada atau tidaknya ban serep tersebut. Alhamdulillah, ban serepnya ada dan segera mengganti ban yang bocor. Perlu merogok kantong Rp 30 ribu untuk mengganti ban serep, dan mengisi angin pada keempat ban lainnya.
Mobil kugenjot lagi sampai ke Kantor Kecamatan Cepu. Kuletakkan sejumlah karpet tersebut di pendopo yang kemarin juga dipakai untuk kegiatan briefing. Setelah itu, ya balik lagi ke SD Gadon.
Di tengah perjalanan, Kiki menelepon dan memberitahu kegiatan Kelas Inspirasi akan segera berakhir. Ku percepat laju mobil dan sampailah ke lokasi tersebut. Sesi foto dokumentasi.
Cuaca tiba-tiba mendung, saat pesawat kertas yang dipegang masing-masing akan diterbangkan ke atas. Tapi, momen foto dan video tersebut dapat dimaksimalkan sebaik-baiknya. Lalu, konten berikutnya dengan menggandeng para siswa agar masuk dalam frame video ponsel. Namun, karena air hujan telah turun, konten tersebut malah seperti mengevakuasi siswa agar tidak kehujanan.
Hujan turun dengan intensitas sedang. Kami, para fasilitator, relawan pengajar dan relawan dokumentator berteduh di ruang kelas yang telah disediakan. Kami mengobrol sejumlah hal, bercanda dan tertawa sewajarnya.
Waktu menunjukkan segera pukul 12.00. tapi masih gerimis. Setelah berfoto bersama dengan pihak sekolah dan berpisah, kuangkut beberapa teman yang tidak membawa kendaraan untuk menuju ke Kantor Kecamatan Cepu. Tentu saja dengan membawa barang dan perlengkapan agar tidak ketinggalan.
Maka sampailah kami di Kantor Kecamatan Cepu. Barang bawaan diturunkan, begitu pun para penumpang. Sementara aku bersiap untuk mengambil penumpang dari rombel lainnya, meskipun tidak ada penumpang pada akhirnya. Tapi karena sudah terlanjut keluar kantor kecamatan, maka sekalian saja aku mengelilingi cepu melewati jalan by pass, belok ke kanan melewati Kantor Bank BNI, belok ke kanan melewati Mapolsek Cepu, memutari Tugu 20 Mei dan kembali lagi ke Kantor Kecamatan Cepu.

Kegiatan Refleksi
Bagiku, kegiatan refleksi tidak begitu menarik. Meski demikian, pada kegiatan tersebut, aku berjumpa dengan Mas Jefri. Seniorku di kampus, tepatnya di jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, kampus Tembalang, Kota Semarang. Aku angkatan 2011, sementara beliau angkatan 2009. Dia juga eks ketua HMJ Imu Perpustakaan saat aku semester satu. Terakhir bertemu beliau pada saat di warung kopi tiga atau empat tahun yang lalu.
Kami berbincang banyak hal. Terutama beliau yang kini menjadi pustakawan di Binus School Surabaya. Dia banyak cerita tentang pengalamannya di dunia pendidikan, terutama yang berkaitan dengan literasi dan digitalisasi. Kesempatan yang jarang didapatkan ini, juga tidak kusia-siakan begitu saja. Maka sebagai bukti otentik, kami berfoto berdua, salam komando dengan slogan “Solid!!!” sesuai slogan waktu di kampus belasan tahun lalu.
Selain bertemu dengan senior kampus, kegiatan refleksi yang menarik juga diisi dengan ‘meronce’. Istilah baru dalam kosakataku pun isi otakku. Ternyata, meronce itu aktivitas yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Aku tidak akan menuliskan banyak tentang aktivitas tersebut. Yang jelas, karya dari meronce bisa digunakan sebagai gantuan kunci, bag charm alias pesona tas, bahkan gelang.
Kegiatan refleksi akhirnya selesai.
Setelah dari kegiatan refleksi, aku diajak oleh beberapa teman dari satu rombel untuk menikmati sore di tempat nongkrong kekinian, Grin namanya. Lokasinya berjarak sekitar 3 kilometer dari Kantor Kecamatan Cepu. Kopi, makanan ringan, sirup tersedia di tempat nongkrong itu. Tempat duduk seperti kursi dan mejanya dibuat portabel, sehingga dapat berpindah-pindah. Selama di sana, kami bermain UNO melingkar sembari bercanda, bercerita dan bergurau. Tanpa terasa petang tiba, langit mulai gelap.
Usai dari grin, kami mampir sejenak ke rumah Talita memastikan tidak ada barang yang terlupa untuk dibawa ke Blora Kota. Kami, dengan jumlah lima orang di dalam mobil yang terdiri dari dua fasilitator, dua relawan dokumentator dan satu relawan pengajar menuju ke Blora Kota dengan tujuan yang berbeda-beda. Satu orang relawan pengajar berkunjung ke rumah kerabatnya, dua orang dokumentator menginap di rumahnya Emtri. Satu orang fasilitator pulang ke rumahnya, dan aku yang menyopir juga pulang ke rumah.
Aku tiba di rumah lebih dari pukul delapan malam.
SELESAI.
















