BLORA, beritaku.net – Di saat sebagian besar warga masih terlelap, aktivitas di Dapur SPPG Blora Cepu Cepu 2—atau yang dikenal sebagai Dapur SPPG Bypass Cepu—sudah berdenyut kencang. Di balik ribuan porsi makanan yang tersaji tepat waktu, ada sosok Sabriyansyah Putra Wardana yang memimpin tim lintas fungsi dengan tanggung jawab besar di pundaknya.
Sebagai Kepala SPPG, Sabriyansyah menghadapi tantangan operasional yang sangat spesifik. Menurutnya, mengoordinasikan tim di waktu fajar menuntut ketahanan fisik dan mental yang luar biasa agar layanan tetap berjalan sempurna.
“Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi disiplin dan fokus tim di jam kerja yang sangat dini, ketika kondisi fisik dan mental belum sepenuhnya prima,” ujar Sabriyansyah. Ia menambahkan bahwa seluruh proses di dapur ini memiliki urgensi waktu yang sangat tinggi.
“Seluruh proses di dapur MBG bersifat time-critical: mulai dari persiapan bahan, pengolahan, pengemasan, hingga distribusi tidak boleh meleset karena berhubungan langsung dengan jam belajar siswa. Kesalahan kecil di satu titik bisa berdampak ke seluruh rantai layanan,” tegasnya.
Untuk menjaga soliditas tim di bawah tekanan, Sabriyansyah tidak hanya mengandalkan instruksi, tetapi juga sistem kerja dan pendekatan humanis. Ia memastikan adanya pembagian peran yang jelas sehingga setiap orang paham tanggung jawabnya dan tidak saling tumpang tindih. Baginya, kehadiran seorang pemimpin di lapangan adalah kunci.
“Keteladanan pimpinan, hadir paling awal, terlibat langsung, dan tidak hanya memberi perintah. Komunikasi yang humanis, termasuk apresiasi kecil, briefing singkat namun konsisten, serta evaluasi tanpa menyalahkan. Dengan pendekatan ini, tim merasa dihargai sebagai satu kesatuan misi, bukan sekadar pekerja dapur,” ungkapnya mengenai rahasia kekompakan tim di Bypass Cepu.
Sikap profesional juga ia tunjukkan saat menghadapi kendala lapangan, termasuk komplain mengenai distribusi. Sabriyansyah memilih untuk menerima masukan dengan terbuka dan empatik tanpa bersikap defensif.
“Menerima komplain dengan terbuka dan empatik, tanpa defensif. Memberikan klarifikasi resmi dan solusi konkret, evaluasi internal dan perbaikan sistem, agar kejadian tidak berulang. Prinsipnya, komplain bukan untuk diperdebatkan, tetapi menjadi alarm perbaikan layanan,” jelas Sabriyansyah mengenai SOP penanganan keluhan.
Seluruh dedikasi ini lahir dari sebuah prinsip kepemimpinan yang ia pegang teguh. Bagi Sabriyansyah, memimpin operasional di SPPG Blora Cepu Cepu 2 adalah bentuk pengabdian total yang ia jalani dengan penuh ketulusan.
“Melayani dengan sepenuh hati tanpa ada rasa beban di hati dengan mengandalkan keteladanan dan kedisiplinan apapun itu dan menjadikan dapur itu sebagai jantung hati yang menyatu dengan jiwa raga saya,” pungkasnya.
















