BLORA, beritaku.net – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Blora menyisakan kisah manis. Sebuah catatan kecil berisi pujian tulus ditemukan tertinggal di dalam kotak makan (ompreng) kosong milik salah satu siswa SDN 2 Bangsri, Kecamatan Jepon, usai jam makan siang.
Pesan sederhana berbunyi, “Om, MBG-nya mantap, besok lagi,” yang dihiasi gambar hati dan emotikon senyum, sukses membuat tim relawan Dapur 27 Turirejo tersentuh. Meski tanpa nama pengirim, apresiasi ini menjadi bukti nyata bahwa menu bergizi racikan dapur tersebut sangat dinikmati anak-anak.
Ka SPPG Dapur MBG 27 Turirejo, Toshari Indra Triana, yang berada di bawah naungan Yayasan Pitulikur Peduli Bangsa menyebut temuan ini sebagai pelepas lelah yang luar biasa. Apresiasi ini seakan menjadi buah manis dari kedisiplinan tim yang selalu rutin menggelar briefing koordinasi sebelum memulai aktivitas masak dan distribusi sejak pagi buta.
“Ini bentuk apresiasi tulus dari anak-anak. Hal sederhana seperti ini sangat berarti dan menjadi motivasi kami untuk terus menjaga kualitas dan memberikan yang terbaik,” ujar Toshari.
Menu Favorit Siswa: Pecel Lele hingga Nasi Kuning
Tim dapur menegaskan akan terus mengevaluasi menu dan cara penyajian. Tujuannya agar makanan yang didistribusikan tidak hanya memenuhi standar gizi kesehatan, tetapi juga menggugah selera siswa hingga habis tak bersisa.
Menyikapi hal tersebut, Kepala SDN 2 Bangsri, Pramulia Hadi Retnowati, S.Pd., turut memberikan respons positif. Ia menilai pesan singkat itu adalah bukti jujur dari kepuasan anak didiknya terhadap fasilitas Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Turirejo.
“Kalau anak-anak sampai merespons seperti itu, artinya mereka memang menikmati. Beberapa hari kemarin saat ada menu pecel lele dan nasi kuning, anak-anak juga makannya sangat lahap,” ungkap Pramulia.
Dukung Program Gizi Nasional
Lebih lanjut, Pramulia berharap pelayanan SPPG Turirejo terus berkembang dan berinovasi. Dengan kreativitas menu yang terus ditingkatkan, kebutuhan gizi siswa di pelosok daerah dapat terpenuhi secara optimal.
Respons langsung dari penerima manfaat ini menjadi tolak ukur penting. Hal ini membuktikan bahwa program MBG yang digagas pemerintah pusat tidak sekadar soal pemenuhan kalori, tetapi juga sukses membangun kedekatan emosional antara penyedia layanan dan anak-anak sekolah.















